Air Tawar Segar di Kedalaman Samudera
Ditulis oleh Shiddiq di/pada April 28, 2009
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis.
Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan…” artinya “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus.”
Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut.
Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika ia pun memeluk Islam.
Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Sumber: Majalah Percikan Iman, Edisi 4 Tahun II








Sewa mobil di surabaya berkata
wah postingannya bagus….
salam kenal ya pak….
wassalam…..:D
Shiddiq berkata
Alhamdulillah…
Salam kenal jg..
Wa’alaikumusalam
pasang iklan gratis tanpa daftar berkata
ternyata didalam air asin itu ada air tawar ya…..
nice post…..
Shiddiq berkata
Semoga dengan info ini menjadikan kita makin dekat dengan Allah Swt….
fathur berkata
Assalamualaikum ust. Shiddiq,
Artikel-nya sangat tertarik ustadz, menambah pengetahuan saya mengenai kandungan Al-Quar’an.
Sedikit mengenai muslim-nya Mr. Jacques, mungkin perlu sedikit klarifikasi lebih lanjut, karena saya menemukan sanggahan-nya di http://www.answering-islam.org/Hoaxes/jackson.html
Demikian, jazakallahu khair
HASAN berkata
assalamu’alaikum
salam kenal dari humas DPW Jateng bidang multimedia dan kretaif
HASAN berkata
assalamu’alaikum
salam kenal dari humas DPW Jateng bidang multimedia dan kreatif
bisa kirim hasil cepretan kegiatan disana
webmaster berkata
gak tahu penting atau nggak tapi saya nemu yang ini
Jacques-Yves Cousteau died on 25 June 1997 in Paris, aged 87. Despite persistent rumors, encouraged by some Islamic publications and websites, Cousteau did not convert to Islam, and when he died he was buried in a Roman Catholic Christian funeral. [7] He was buried in the family vault at Saint-André-de-Cubzac in France. An homage was paid to him by the city by the inauguration of a “rue du Commandant Cousteau”, a street which runs out to his native house, where a commemorative plaque was affixed.
sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Jacques-Yves_Cousteau
webmaster berkata
maksud saya, kita kadang terlalu terpesona membaca sebuah berita seseorang masuk islam, padahal itu semua hanya hoax belaka. Seperti jargon acara televisi
“penting gak penting, yang penting… penting bangeet”
costeau masuk islam atau nggak, itu nggak penting, yang penting penemuannya dapat membuat kita lebih yakin akan kebenaran agama kita.
لكم دينكم و لي دين
Rintco Idriz Thalib berkata
Azz…Wallahualam…M0ga rubrik ini biza Membantu dan merubah akhlak-akhlak muzlimin/muzlimah agar lebih mendekatkan diri pada Allah swt…amieN..!!