Kisah Sebuah Cangkir
Ditulis oleh Hafez di/pada Juli 15, 2007
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju pada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu” , kata si nenek pada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat” , ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara. “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa sebelumnya aku tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutarku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak. Tetapi orang itu berkata, ‘”belum!” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi, ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata lagi, “Belum!”
Akhirnya ia mengangkatku dari perapian, dan membiarkanku sampai dingin. Aku pikir selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin, aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnaiku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak. Wanita itu berkata, “Belum!” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. Tolong! Tolong! Hentikan penyiksaan ini!! Aku berteriak sekuat-kuatnya sambil menangis. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas ‘menyiksaku’, kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Para tamu yang terhormat..seringkali kita lupa bahwa saat ini kita sedang menjalani suatu proses panjang yang seringkali terasa menyakitkan. Kita khilaf berpikir bahwa kehidupan kita sekarang adalah etalase toko…padahal dunia ini adalah tempat pengrajin tembikar..tempat kita dipukul-pukul, dibakar agar menjadi sebuah cangkir yang indah saat kita menghadap ilah kita…








Puji berkata
Subhanallah crtnya sangat menyentuh qolbu,ampe terharu membayangknnya.